Semenjak terbukanya informasi dan teknologi media, pertumbuhan
media massa dan media baru mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Media yang
telah bermetamorfosis menjadi media digital itu perkembangannya semakin
beragam, lebih gampangnya direpresentasikan oleh pertumbuhan smartphone,
gadget dan sejenisnya. berbagai jenis media tersebut telah merambah
ke berbagai kalangan dan komunitas di masyarakat termasuk saya sendiri , tanpa
membedakan strata sosial dan ekonomi. Penggunaan media komunikasi smartphone dan
sejenisnya telah bergeser menjadi gaya hidup masyarakat tertentu Maka tidak
heran jika kehidupan masyarakat kita saat ini tidak bisa terpisahkan oleh
kehadiran teknologi media komunikasi.
Penetrasi media komunikasi itu dampaknya semakin sulit
terkontrol. Kini masyarakat tidak
sekedar mendapatkan informasi, pengetahuan, dan hiburan, tetapi bisa
berinteraktif langsung. Pada saat yang sama media menanamkan nilai ideologi
baru berupa gaya hidup. Maka dari itu sudah waktunya penetrasi media yang
semakin gencar dan bebas harus diimbangi dengan literasi media sebagai budaya
tangkal atas dampak negative media. Disamping itu literasi media juga bertujuan
untuk melindungi konsumen yang rentan dan lemah terhadap dampak media penetrasi
budaya media baru.
Bisa jadi progres literasi media didasarkan pada semakin
pesatnya gempuran informasi media yang tidak di-imbangi dengan kecakapan
mengkonsumsinya. Maka dibutuhkanlah budaya baru dalam mengkonsumsi media secara
sehat. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, maka
literasi media juga berlaku pada konsumen media on-line, atau media baru yang
tersebar melalui jejaring internet. Literasi media tentu tidak bisa berjalan
dengan baik tanpa peran serta masyarakat. Peran itu dapat berupa individu,
komunitas, kelompok, dan budaya lokal setempat. Peran individu lebih di
fokuskan pada bimbingan orang tua sebagai kepala keluarga atas konsumsi media
di lingkungannya. Demikian juga pengawasan di komunitas, kelompok masyarakat
tertentu yang peduli terhadap perkembangan konvergensi media, serta
pemberdayaan kearifan lokal yang berkembang di komunitas masyarakat.
Salah satu cara untuk meningkatkan awareness media literasi
adalah melalui komunikasi keluarga, karena keluarga merupakan unit terkecil
tempat bersosialisasi. Peran ini terutama akan banyak diambil oleh Ibu Rumah
Tangga. Mendidik ibu rumah tangga pedesaan untuk “melek” media penting untuk
dilakukan untuk membuka wawasan mereka tentang hak masyarakat terhadap media,
bentuk-bentuk literasi, dan fungsi media bagi kehidupan sosial. Namun, untuk
mencapai hal tersebut ibu rumah tangga perlu didampingi dalam meliterasi
tayangan TV karena perlu peningkatan pemahaman tentang hak masyarakat terhadap
tayangan TV.
Penyampaian informasi begitu cepat dimana setiap orang/
masyarakat dengan sangat mudah memproduksi informasi, dan informasi yang begitu
cepat melalui beberapa media sosial seperti facebook, twitter, ataupun pesan telpon genggam
seperti, whatsapp dan
lain sebagainya yang tidak dapat difilter dengan baik. informasi bohong (hoax)
dengan judul yang sangat provokatif mengiring pembaca dan penerima kepada opini
yang negatif. Opini negatif, fitnah, penyebar kebencian yang diterima dan
menyerang pihak ataupun membuat orang menjadi takut, terancam dan dapat
merugikan pihak yang diberitakan sehingga dapat merusak reputasi dan
menimbulkan kerugian materi.
Literasi media menggunakan pendekatan tritokomi yang
mencakup tiga bidang yaitu literasi media bermakna memiliki akses ke media,
memahami media dan menciptakan dan mengekspresikan diri untuk menggunakan media
( Buckingham 2005, Livingstone 2005 ). Akses meliputi menggunakan serta
kebiasaan media, artinya kemampuan menggunakan fungsi dan kompetensi navigasi (
mengubah saluran televisi, menggunakan sambungan internet ), kompetensi
mengendalikan media ( misalnya menggunakan sistem terpasang interaktif,
melakukan transaksi melalui internet ) dll. Pemahaman artinya memiliki
kemampuan untuk memahami atau menafsirkan serta memperoleh perspektif isi media
serta sikap kritis terhadapnya. Menciptakan mencakup berinteraksi dengan media
( misalnya berbicara di radio, ikut serta dalam diskusi di internet ), juga
menghasilkan isi media. Bagi seseorang yang memiliki pengalaman mengisi berbagai
media massa membuat seseorang memiliki pemahaman yang lebih baik tentang dan
pendekatan kritis terhadap isi media. Perlu adanya proses literasi media sosial
ke seluruh lapisan masyarakat, baik itu pelajar dan mahasiswa maupun masyarakat
umum, sehingga media sosial yang kita pakai jauh lebih sehat dengan
konten-konten positif yang membawa manfaat bukan saja bagi kita sendiri, tetapi
juga bagi komunitas dan lebih dari itu bermanfaat bagi bangsa dan negara.